KABUPATEN SIAK, RIAU YANG MODERN DENGAN TRADISI

Image

Sensasi negeri melayu langsung terasa setelah keluar dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II. Karena aksen-aksen yang diucapkan cukup kental dengan aksen dan kosakata khas melayu. Sebenarnya saya tidak berada di luar negeri, tapi di Pekanbaru, Riau. Kedatangan saya ke propinsi Riau ini dalam rangka seminar internasional bertema “Diaspora Dunia Melayu”. Program yang berlangsung selama dua hari ini ternyata dilaksanakan di salah satu kabupaten yang cukup muda umurnya yaitu Kabupaten Siak. Untuk mencapai Siak, saya dan rombongan seminar lainnya harus menaiki perahu cepat selama lebih kurang dua jam. Walaupun jauh, ternyata semua kelelahan itu terbayarkan dengan persembahan yang dihadirkan oleh Pemerintah Kabupaten Siak.

Kabupaten ini termasuk salah satu kabupaten yang cukup muda namun pembangunannya sangat progressif.  Dalam kurun waktu 15 tahun, PemKab telah berhasil mengubah jalan-jalan tanah berlumpur dan berdebu menjadi jalan-jalan aspal yang lebar, kota yang teratur, bangunan-bangunan tertata rapi nan eksotik. Namun hal yang menarik dari Siak ini tidak hanya pembangunannya, tapi juga pelestarian kebudayaan Melayu dan adat lokal yang terasa kental. Ketika rombongan kami sampai di Pelabuhan Siak, kami langsung disambut oleh pemuda berpakaian khas melayu ‘Teluk Belanga’ lengkap dengan songket dipinggang dan kopiah. Awalnya saya menganggap pakaian itu hanya untuk menyambut tamu saja, ternyata tidak demikian. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan di kabupaten ini, pegawai pemerintahan harus menggunakan pakaian tradisional melayu setiap hari Jumat dan juga pada acara-acara penting lainnya. Pakaian ini juga dipakai oleh pelajar SMU dan SMP didaerah itu, bahkan Gubernur, Bupati dan Wakil Bupatinya juga menggunakan pakaian ini. Sebagai orang Aceh, pemandangan ini sungguh menarik, indah dan menyegarkan mata. Karena ternyata modernitas tidak serta merta menggilas tradisi lokal di daerah ini.

Modern bukan berarti tidak bertradisi. Pemerintah Kabupaten Siak menyadari hal ini, bahwa menjaga tradisi adalah kekayaan. Sehingga momen hari Asyura minggu yang lalu benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siak. Pencanangan acara memasak 1000 Bubur Asyura berhasil meraih gelar Museum Rekor Indonesia (MURI). Ajang ini selain untuk menaikkan pamor kabupaten juga menjadi momen melestarikan budaya setempat dan meningkatkan budaya kebersamaan. Program masak 1000 bubur Asyura ini termasuk katagori program non-budgeter, karena 1130 pemasak berasal dari masyarakat setempat yang sukarela menyediakan alat dan memasak bubur untuk dibagikan kepada seluruh masyarakat lainnya. Demi menjaga tradisi lokal, semua golongan masyarakat ikut serta tanpa peduli agama yang mereka anut. Terbukti dengan salah satu pemasak bubur Asyura ini adalah seorang non-muslim dan ia dengan senang hati melakukannya. Baginya ini adalah tradisi lokal dan tidak mesti ada sangkut pautnya dengan keagamaan. “Apakah di Aceh ada juga bubur ini?”  saya bertanya ke salah seorang Anthropolog Aceh, “Ya, di Aceh juga ada, namanya Bubur Hasan Husen, tapi sayangnya sekarang hanya didaerah kampung tertentu saja”, begitu jawabnya.

Secara geografis, Kabupaten Siak ini dibelah oleh sungai Siak yang luas dan dalam. Sungai ini merupakan salah satu jalur sibuk bagi kapal-kapal besar bermuatan kayu untuk pabrik kertas di kabupaten Siak. Potensi alam ini ternyata benar-benar dimanfaatkan. Tidak hanya untuk kepentingan industri, tapi juga pariwisata. Salah satu ‘Landmark’ Siak adalah jembatan gantung siak. Jembatan yang lebar dan kokoh ini makin menambah keelokan Siak. Lampu-lampu hias yang ada disekeliling jembatan dan pinggir sungai ini menjadi asesoris kota bagi mereka yang ingin menikmati kuliner malam dipinggir sungai. “Sensasinya tak kalah dengan jembatan San Fransisco” begitu ucap salah satu pegawai pemerintahan Siak. Ya, memang indah pemandangan malam hari disekitar jembatan ini sembari menikmati kulinernya.

Selain alam, Istana Kerajaan Islam Siak adalah daya tarik yang tak kalah eloknya. Bangunan berwarna kream yang dibangun pada abad ke 19 masih terjaga interior klasik dalamnya. Hanya bagian luar bangunan saja yang sedikit berubah dari aslinya. Akan tetapi, renovasi ini tidak menghilangkan kesan kemegahan Istana yang pernah dipimpin oleh keturunan dari Bani Hasyim (Keluarga Rasulullah). Mulai dari koleksi surat-surat lama, patung dan potret raja dan ratu yang pernah memimpin, kursi sultan, tabuh pelantikan Sultan sampai letak meja dan alat makan masih teratur apik dan menarik. Karena dibangun pada abad ke 19, tentunya pengaruh dan sentuhan gaya Eropa cukup terasa ketika kita berada di dalam ruangan klasik ini. Dari sekian fakta-fakta yang saya temukan, ada sebuah fakta sejarah menarik tentang Sultan Kerajaan Siak ini. Salah satu Sultan Kerajaan Siak, yaitu Sultan Assjaidis Sjarif Kasim II Abdul Djalil Saifuddin atau bergelar Tengku Putera Sayed Kasim pernah berada di Aceh pada Perang Kemerdekaan. Ini menunjukkan bahwa terdapat relasi antara Aceh-Siak pada masa lalu. 

Leave a comment

Filed under Curahan Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s