Catatan (tentang) Perasaan

sudah lama saya mencoba mengabsenkan diri dari topik dengan kata kunci “perasaan”. Selain tidak ada inspirasi juga karena seperti menghindarkan diri dari topik itu pada saat ini adalah sebuah kebijaksaan bagi pribadi saya. Tapi entah kenapa dalam minggu ini lingkaran persahabatan dan linkungan saya membuat saya mulai melihat fenomena-fenomena yang men’triger’ kembali kreatifitas otak yang tidak seberapa mana ini untuk menulis beberapa catatan dengan tema “perasaan”.

 

Apakah cinta itu membutakan hati dan pikiran insan-insan yang sedang dilanda virus itu?

sungguh sebenarnya, sifat sejati sebuah cinta bukanlah membutakan, mengecilkan, menghalangi, menyakiti dan mengikat dgn dengan simpul mati ataupun membatasi. Tapi hakikatnya adalah mencerahkan mata hati, memberikan kebebasan, menerima, memberikan kebahagiaan sempurna dan memnumbuhkan serta membesarkan jiwa-jiwa setiap pemilik cinta, menembus tembok-tembok penghalang dan pengkonversi sebuah harapan dan impian menjadi kenyataan. Ini adalah sifat dasar sebuah cinta. Lalu mengapa sepertinya banyak manusia ketika ia sedang dilanda kasmaran/cinta kepada sebuah/seorang makhluk malah sepertinya menutup potensi-potensi sifat dasar cinta itu? Sungguh perlu kita ketahui bahwa dalam diri manusia terdapat sebuah zat yang sangat lihai dan hampir selalu ia menyerupai atau mengatas namakan dirinya atas nama cinta, tapi sahabat percayalah ia bukanlah sebenarnya cinta tapi nafsu. Dialah yang bertanggung jawab terhadap semua perasaan buta, penghalang, penyakit, pengikat simpul mati dan pembatas serta pembunuh berdarah dingin paling di lihai sepanjang sejarah manusia. Antara cinta dan nafsu dalam jasa manusia bagaikan sebuah koin dengan dua mata sisi yang berbeda tapi mereka hakikatnya adalah satu.

 

Cobalah perhatikan ketika kita baru awal-awal merasakan sensasi perasaan menyukai seseorang. Rasanya tidak ada keinginan yang mutlak untuk memilikinya, tapi yang ingin kita lakukan adalah membahagiakannya, memberikan sebuah makna dalam kehidupannya, atau menolongnya secara ikhlas tanpa sebuah “bayaran”. Mungkin inilah yang bisa didefinisikan sebagai cinta. Lalu setelah sekian lama terus menyimpan perasan itu, barulah kemudian muncul perasaan-perasaan untuk memiliki, rasa tidak ingin kehilangan, tidak bisa hidup tanpanya, insomnia (buatan), bangun pagi kalau enggak denger suara atau info apapun mengenainya rasanya rasa daging megang pun enggak enak lagi. Inilah fase-fase bahwa nafsu sudah menyelimuti dan mendominasi perasaan cinta. Parahnya, jika penyakit ini tidak segera ditangani oleh “dokter” yang tepat makanya ia bak kanker yang akan menggerogoti seluruh tubuh pesakitan. 

 

Lalu apakah fase ini salah dan buruk? Jawabannya adalah tidak, fase ini adalah sebuah fase kewajaran yang hampir semua manusia melaluinya. Namun ada yang selamat dengan sejahtera, ada pula yang gagal bersimbah air mata bahkan darah di pergelangan tangan, retak tulang dibagian leher atau pun tubuhnya penuh dengan cairan “anti nyamuk”. Sejatinya untuk memenangkan fase ini, maka setiap hati kita harus diisi dengan ilmu-ilmu Pencipta dan Pemilik Cinta (Ma’rifatullah) bahwa cinta yang baik dan bermanfaat serta membawa kebahagiaan hanyalah cinta yang menyandarkan dan menyerahkan diri pada pemilikNya dan hati kita harus mendapatkan pengalaman dan suri tauladan yang baik tentang cinta dari  sang ahli cinta di dunia, Ibu. Dialah Guru Cinta pertama kita, tak pernah lekang dari hatinya perasaan cinta kepada kita, walau badai Menghadang, jarak memisahkan (LDR) dan berjuta duri yang kita lemparkan. Ia akan tetap setia menyambut kita di pintu rumah setiap matahari akan tenggelam untuk memeluk, menanyakan kabar, mengusap peluh dan air mata, menguatkan hati-hati yang lemah dan mendoakan kita disetiap malam. 

 Image Shahabat, pelajarilah ayat-ayat cinta yang berterbaran di bumi dari Tuhanmu, rasakanlah bukti cinta sebenarnya dari guru dan Wanita pertama yang mencintaimu. Tatap, perhatikan dan rasakanlah setiap tetesan embun cinta dari mereka. Jangan menjadikan pujangga-pujangga cinta roman picisan, film-film romantis barat, korea, dan telenovela sebagai panutan definisi cinta. Selamat Bercinta dengan Rahman Dan RahimNya yang tidak mengenal batas jarak dan waktu. wallahu’alam

5 Comments

Filed under Curahan Hati

5 responses to “Catatan (tentang) Perasaan

  1. ulfah

    ibu… yang ajarkan cinta penuh tulus…

  2. ven

    wow, beda ya dengan pernyataan anda tempo hari ttg kebenaran.. “seakan-akan” dan “seolah-olah”..

  3. it’s just great! enak kali bacanya dari awal sampe abis.
    so, here is your home, bai?! ^^

    • baiquni

      hahah thaks zizah, it’s not a home for me, coz i randomly take care of it, but it’s my rest house, whenever i feel tired of the world, i can simply go back and sit here for while🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s