Dangerously Beautiful


Pertengahan November 2007 di kota Neepawa, Manitoba, Canada, disebuah tempat terasing yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Hawa dingin merasuk kedalam tiap pori-pori wajah kering tanpa rasa ragu dan menghalangi. Sensasi wajah terbakar oleh dingin pun terasa begitu paradoks. Aneh memang rasanya, tapi diam dalam hati ada semangat ingin tahu membuncah dan terus menggebu…

Tanpa kusadari, turunlah satu benda, putih, bersih, dingin, rapuh, dan indah sehingga tersimpul seulas senyum yang mungkin hanya diriku yang mengerti maknanya. “Akhirnya ia datang” hati ku berbisik. Ternyata tak hanya satu yang hadir, ribuan lainnya pun turun dengan bentuk yang berbeda, hampir tak ada yang sama. Semakin bahagia, tanpa terasa ternyata kaki telanjang ku pun mulai terasa dingin karena lama bersentuhan denganya, baju kaos lengan pendek membuat bicara ku pun mulai gemetar. Ya itulah tamu bulan ini, salju.
Ia tamu kehormatan bagi mereka yang mata hatinya terbuka untuk menerima secara ikhlas bentuk ujian Tuhan. Sungguh dalam susahnya menempuh ujian kehidupan selalu saja ada hal yang kecil baik yang bisa berubah pada kebahagian jika saja hati ini ikhlas dan mampu memanfaatkan kesempatan sebagaimana dalam dinginnya kebekuan salju disetiap akhir tahun, terdapat kebahagian bagi mereka yang bermain “snowball fighting”, “snowman”, “tobogganing” dan juga skiing. Ia adalah simbol keindahan dalam berbagai bentuk seperti pohon, molekul air, dan bintang. Warna putih lembutnya mewakili sifat fitrah hati manusia sebelum ia bercampur dengan bumi. Ia juga katalisator kehangatan keluarga ketika kita bermain dengan salju dalam dinginnya hawa minus.

Tapi entahlah, dalam bentuk keindahan dunianya kadang salju juga bisa menjadi penipu bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri, sombong, dan lalai terpana oleh indahnya. Ia mampu membunuh kehidupan yang tidak dijaga dengan baik pula. Putih saljunya menyilaukan mata mereka yang tidak pandai menjaga pandangan. Kesombongan atas kemewahan dan berbagai harta dunia membuat mereka lupa bahwa keindahan itu bisa berubah menjadi katalisator kematian karena licinnya jalan yang ditempuh. Sedangkan kelalaian persiapan bisa merubah bahagia menjadi penyakit “frostbite” yang mampu membusukkan fisik yang indah pula.

Namun dibalik indah yang mampu melalaikan dan membunuh itu pula. Musim salju merupakan pertanda harapan bagi mereka yang bersabar dan bertahan bahwa sesaat lagi musim semi segera hadir menggantikan kematian-kematian itu. Matahari kembali hangat, pepohonan kembali hijau, bunga kembali mekar dengan berbagai warna keindahan, dan burung pun kembali menyanyikan nada cinta dan kehangatan.
Qs. Alam Nasyrah: (94): 6:
“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Leave a comment

Filed under Curahan Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s