Kekasih Hati, Pemilik Cinta Sejati

Dear Kekasih Hati, Pemilik Cinta Sejati…
Jika saat nanti waktu telah tiba masa jiwa berpisah dengan jasad, izinkanlah bibir kering ini untuk terakhir kalinya mengucapkan bahwa Aku mencintaiMu, Hati ini akan selalu menjadi milikMu, Engkau Cinta suciku, walau tak pernah mampu terucap dengan pasti dan sering. Tapi didalam lubuk terdalam aku terus yakin, bahwa hanya padaMulah hati ini akan teduh, tenang dan berlimpah kebahagiaan karena cinta.

Kumohon…
Maafkan aku…jika hati ini terus mendustai cintaMu, menolak kebahagiaan yang Kau tawarkan, dan hanya memanfaatkanMu jika ku gelisah, susah, sedih tapi beralih ke hati yang lain ketika bahagia. Tapi cintaMu tak pernah habis, walau ku ingkari setiap saat. Padahal cintaNya mengalir bagai arus sungai deras yang bermuara pada laut yang lebih yang lebih luas, indah dan dalam. Dipenuhi dengan keindahan yang tak ada didunia biasa, tertutup rapi dan hanya terbuka bagi mereka yang menyerahkan diri dan melepaskan cinta di dunia.

Bukan…
Ku tak sadar bahwa janji akhiratMu akan tiba mengadiliku. Tapi maafkan aku wahai Cinta, hatiku terlalu buta dengan teriakan-teriakan puja-puji wanita yang mendengung ditelinga, kebanggaan orang tua, shahabat, dan kerabat dihati, wanita yang sangat kucintai dan mimpi-mimpi masa depan indah yang kurajut sendiri. Rasanya terlalu nikmat, bagai meneguk embun pagi ketika terik matahari padang pasir menyengat…aahhh…puasss…lega…ingin lagi dan teruuus ingin lagi tak ingin berhenti. Padahal…aku akan pergi menemuiMu. Padahal…mereka tak kan menemani tidur lelap panjangku di kubur yang gelap, sepi sendiri, dan resah? Tak ada yang mau, dan tak ada yang bisa. Hanya berlapiskan kain kafan tipis putih bau kapur jenazah menyengat yang menyelimuti ku menggantikan pakaian dan sepatu mewah berharga ratusan dan jutaan yang membuatku tampak indah dimata manusia. Pun “pakaian mewah” ini akan segera robek dan sirna oleh cacing dan bakteri yang menggoroti tubuh ku sehingga wangi parfum mahal pun hilang digantikan bau busuk bangkai tubuh.

Kumohon…
Hati ini terlalu keras, bibir ini terlalu kering, mata ini terlanjur buta, telinga ini terlalu tuli, sehingga aku terus kehilangan kekasihku. Jika memang aku kan pergi, berikanlah kemaafanMu. Sungguh ku tak sanggup pada murka itu. Hati ini gentar, takut, otot-otot ini melemas, tubuh bergetar

Maafkanlah…
Hati yang tak pernah mampu merasakan cinta, lidah yang tak pernah mengucapkan cinta, tangan yang tak pernah merangkul cinta, kaki yang terus melangkah jauh dari cinta dan telinga yan tak pernah mendengar cinta.

Leave a comment

Filed under Curahan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s