AYA SOPHIA, PERPADUAN DUA AGAMA DUNIA

Turki merupakan negara perpaduan antara benua Asia dan Eropa. Walaupun demikian, pengaruh Eropa masih terasa lebih kuat di negara ini dibanding dengan pengaruh Asia khususnya budaya Islam yang menjadi pengcounter budaya-budaya Eropa.

Salah satu budaya Eropa yang mencolok adalah gaya berpakaian (fashion) yang digunakan oleh masyarakat Turki khususnya masyarakat yang menetap di kota-kota besar seperti Istanbul dan Ankara.

Selain fashion, Turki juga terkenal dengan bangunan-bangunan dan benda-benda bersejarah peninggalan dari masa Kerajaan Turki Usmani seperti Istana Topkape, Dolmabahce dan Mesjid Sultan Ahmed atau lebih terkenal dengan Blue Mosque. Dari bangunan-bangunan bersejarah itu terdapat bangunan megah yang telah ada sejak ribuan tahun lalu yaitu bagunan Aya Sophia.

Bangunan yang terletak di kota Istanbul ini awalnya sebuah bangunan Gereja Orthodox termegah yang dibangun antara tahun 532 dan 537 Masehi ketika Raja Bizantium Justinian berkuasa. Setelah dibangun, Aya Sophia terus mengalami perbaikan dan menjadi tempat peribadatan umat Kristiani selama ratusan tahun.

Di pintu keluar gedung Aya Sophia yang kini menjadi museum itu terdapat kalighrafi arab yang bertuliskan sebuah hadits Nabi Muhammad SAW. Hadits itu menerangkan bahwa suatu saat Konstantinopel (Istanbul sekarang) akan takluk dibawah pengaruh Islam. Ratusan tahun kemudian hadis itu terbukti adanya.

Adalah Sultan Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan kerajaan Konstantinopel pada tahun 1453 M pada masa Kerajaan Turki Usmani. Kemudian fungsi Gereja Aya Sophia ini dialihfungsikan menjadi Mesjid Aya Sophia yang terus dipakai selama ratusan tahun berikutnya.

Selama digunakan menjadi masjid banyak penambahan dan pengubahan yang dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan tempat peribadatan umat Islam. Mosaik-mosaik Kristiani yang dilapisi emas yang terdapat dalam gedung Aya Sophia seperti gambar-gambar Arch Angel, Bunda Maria dan beberapa Saint (orang yang suci) ditutup dengan plaster dinding baru sedangkan lonceng dan altar dibuang serta kemudian ditambah dengan figure-figure Islami seperti kaligrafi Allah SWT, Muhammad SAW dan empat Khalifah Rasyidin.

Selain itu, mesjid ini kemudian terus mengalami penambahan ornamen seperti dibangunnya beberapa menara di sekeliling mesjid, mimbar tempat khatib berkhutbah, mihrab tempat Sultan yang berkuasa mengaji dan beribadah, tempat berwudhu bahkan di dalam mesjid ini juga dibangun madrasah sebagai tempat orang-orang belajar agama dan belajar Al-Quran.

Pertengahan abad ke-19, Kerajaan Turki Usmani mulai melemah akibat berbagai masalah di dalam maupun di luar kerajaan. Sehingga Mustafa Kemal Ataturk berhasil merubah sistem pemerintahan Turki dari Kerajaan menjadi Republik Turki dan pada tahun 1935 ia merubah fungsi Aya Sophia dari mesjid menjadi Museum Aya Sophia. Akibat keputusan ini, terjadi perubahan yang sangat mencolok pada Aya Sophia, seperti dinding yang melapisi figure-figure Kristiani dibongkar dan diperbaiki kembali.

Saat ini bangunan lama itu terlihat jelas figure dari dua agama yang berbeda di dalam satu bangunan sebagaimana yang terdapat di sekitar mimbar. Di daerah ini tampak jelas gambar Bunda Maria yang sedang memangku Nabi Isa (Yesus) di antara kaligrafi Muhammad Saw dan Allah Swt dan juga gambar archangel di beberapa sudut kubah. Sedangkan pada lantai kedua dari bangunan ini terlihat jelas beberapa figure, kuburan Saint seperti Saint Irene and John, Yesus dan Bunda Maria yang dilapisi emas.

Selain fakta-fakta tersebut, terdapat juga beberapa legenda tentang Aya Sophia yang cukup menarik. Di antaranya, di salah satu tiang di dalam bangunan ini terdapat sebuah tempat yang dipercayai sebagai bekas dimasukkan ibu jari Nabi Khaidir AS ketika dirinya mengubah kiblat dari Yerussalem ke Mekkah.

Pada awalnya kiblat dari Aya Sophia adalah Yerussalem sebagaimana yang dianut oleh umat Kristiani pada saat itu. Namun kemudian, Nabi Khaidir datang dan kemudian ia memasukkan salah satu ibu jarinya kedalam salah satu tiang di dalam Aya Sophia dan menggerakkan arah bangunan dari Yerusalem menghadap ke Mekkah bersamaan dengan bergeraknya ibu jari beliau.

Disamping itu, tempat ini juga dipercayai bahwa apabila pengunjung dapat memutar ibu jarinya searah dengan Nabi Khaidir maka keinginan yang pada dirinya akan dikabulkan. Menurut salah sau pengunjung asal Indonesia, Christian Kuswibowo, mengatakan bahwa cerita tersebut bisa saja diciptakan untuk menarik perhatian turis-turis yang ingin mengunjungi museum Aya Sophia.

Saat ini, museum ini sedang mengalami renovasi di beberapa bagian dan di kubah utamanya. Setiap harinya, museum Aya Sophia ini tidak pernah sepi dari pengunjung yang terus berdatangan dari berbagai negara di dunia.

Renovasi yang dilakukan pemerintah Turki itu untuk mempersiapkan diri sebagai pusat budaya Eropa pada tahun 2010 mendatang. Untuk bisa memasuki museum ini, setiap pengunjung diharuskan membayar tiket masuk sebesar 20 Turki Lira (lebih kurang 140 Ribu rupiah, dengan kurs 1 Turki Lira = Rp. 7000,-).

* Baiquni

Mahasiswa Universitas Ankara, Turki

(telah dimuat di tabloid Kontras Aceh)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s