ISLAM DAN LINGKUNGAN

Bau menyengat, sampah berserakan, dan saluran pembuangan tersendat adalah gambaran sehari-hari yang mungkin selalu kita lalui. Padahal Indonesia khususnya Nanggroe Aceh Darussalam adalah masyarakat mayoritas muslim yang notabene seharusnya menjadi model dari Islam. Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat Lin Nass (Kamu adalah sebaik-baik ummat yang bagi manusia). Begitulah kira-kira sebuah terjemahan dari salah satu ayat Al-quran yang menyatakan bahwa umat Islam adalah sebaik-baik ummat untuk seluruh manusia. Hal ini adalah sebuah keniscyaan menimbang ajaran Islam adalah ajaran yang telah di sempurnakan Allah sebagai agama universal dan juga mengandung nilai-nilai kebaikan universal. Sehingga pastinya diharapkan semua pemeluk agama ini akan menjadi umat terbaik diantara manusia-manusia lainnya. Menjaga kebersihan dan lingkungan adalah salah satu prioritas penting yang diajarkan Islam kepada pemeluknya. Namun sepertinya kita tidak pernah menghiraukan masalah ini. Islam yang kita pahami selama ini hanyalah berkutat pada shalat dan puasa saja. Padahal Islam seharusnya menjadi way of life (panduan kehidupan) bagi pemeluknya. Jika kita melihat ayat-ayat dalam Al-Quran, kita akan menemukan perintah agar manusia sebagai khalifah mampu menjaga dunia ini dari kehancurannya seperti dalam surat Al-A’raaf ayat 56 “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya…”. Namun yang terjadi adalah kebalikannya, kita sadar atau tidak telah melakukan kehancuran sedikit demi sedikit. Akibat dari kerusakan ini pun akhirnya berimbas kembali kepada manusia, karena pada dasarnya alam ini diciptakan Allah dengan keseimbangan yang sesuai dengan ukurannya (Al Hijr: 19). Mungkin belum hilang dalam ingatan kita beberapa tahun yang lalu sebuah banjir besar (bandang) menghantam sebuah pemukiman di Sumatra Utara. Bencana alam ini terjadi karena kerusakan hutan yang disebabkan oleh ulah manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali”. Surat Ar-Rum ayat 41 ini telah memberitahukan kita konsekuensi dari kerusakan yang diperbuat. Allah akan mencicipkan sedikit kepada manusia akibat perbuatan dosa dan pelanggaran kita sehingga kita sadar akan perbuatan dosa tersebut. Ini adalah salah satu contoh dan masih banyak contoh kerusakan besar lainnya yang juga berakibat besar. Perbuatan-perbuatan kecil kita yang melanggar juga sebenarnya ikut ambil andil dalam kerusakan-kerusakan besar tersebut. Membuang sampah atau limbah secara sembarangan, penggunaan plastik, asap mobil dan industri dapat memberikan dampak negatif bagi alam. Pembuangan sampah tidak pada tempatnya memberikan kesan kumuh dan kotor serta dapat mengundang bakteri-bakteri dan bau menyengat yang buruk terhadap kesehatan, sedangkan sampah plastik akan merusak tanah karena plastik hanya mampu dihancurkan oleh tanah setelah 500 tahun. Semakin banyak sampah plastik didalam tanah maka tingkat kesuburan tanah pun semakin berkurang. Polusi udara akan merusak lapisan pelindung dunia (ozon) yang mencegah sinar matahari yang buruk bagi manusia masuk ke dalam bumi. Hal itu akan berakibat meningkatnya suhu bumi serta juga dapat menyebabkan penyakit kanker kulit. Walaupun sebagian dari akibat pengrusakan telah kita rasakan saat ini, namun bukan berarti kita telah terlambat untuk melakukan perbaikan terhadap kerusakan tersebut. Banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mencegah bencana yang lebih besar terjadi dan kita dapat memulai tersebut dari diri kita sendiri. Marilah kita mulai dengan meningkatkan kesadaran bahwa pengrusakan—membuang sampah, menebang pohon secara liar—yang telah kita lakukan selama ini adalah sebuah dosa kita kepada Allah swt. Sehingga saatnya bagi kita untuk menebus kesalahan tersebut dengan menjaga lingkungan kita. Penjagaan lingkungan adalah salah satu perintah Allah kepada kita sebagai khalifah dunia ini yang bernilai ibadah jika kita melakukannya secara ikhlas. Kepada pemerintah, agar dapat mengalakkan sistem daur ulang sampah. Sistem ini telah lama diterapkan oleh negara-negara maju dengan cara memisahkan sampah-sampah yang dapat didaur ulang dengan sampah yang tidak dapat didaur ulang. Sehingga sampah pun dapat di reduksi dengan sistem ini. Selain itu, daur ulang inipun dapat bernilai ekonomi kepada masyarakat dengan menciptakan produk-produk yang baru dari sampah-sampah daur ulang tersebut. Selain itu, penempatan tong-tong sampah ditempat publik akan membantu masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan bersih sehingga kota yang beriman dan bersih pun dapat kita miliki dan gelar sebaik-baik umat akan pantas kita sandang dihadapan masyarakat dunia. (baiquni)

1 Comment

Filed under Curahan Pikiran

One response to “ISLAM DAN LINGKUNGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s