Posts filed under 'Curahan Pikiran'
PEMILIHAN KHALIFAH ISLAM
Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Inilah salah satu hadist yang seharusnya dipahami oleh setiap pemimpin yang sedang dan yang akan memimpin dimasa depan. Pemahaman inilah yang dipahami oleh shahabat-shahabat Rasulullah yang pernah menjadi Khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Bahwa tampuk dan tugas kepemimpinan adalah amanat yang sangat besar yang harus dilaksanakan dan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah swt kelak. Sehingga menjadikan mereka pemimpin-pemimpin yang amanah, taat, serta kuat yang telah mampu mensejahterakan dan memajukan peradaban Islam pada masanya.
Allah tidak menjelaskan secara detil tentang tata cara pemilihan pemimpin dan begitu juga dengan Rasulullah, sehingga sistem pemilihan yang pernah dilaksanakan pada masa shahabat merupakan hasil pemikiran shahabat sendiri. Pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pertama Islam adalah hasil dari perdebatan yang sangat alot antara kaum Anshar dan Muhajirin. Pada awalnya, kaum Anshar menawarkan Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah, namun kemudian Abu Bakar menawarkan Umar dan Abu Ubaidah sebagai khalifah dan berkata bahwa kaum Muhajirin telah diistimewakan oleh Allah karena pada permulaan Islam mereka telah mengakui Muhammad sebagai Nabi dan tetap bersamanya dalam situasi apapun, sehingga pantaslah jika khalifah muncul dari kaum Muhajirin. Umar menolak usulan Abu Bakar dan mengatakan bahwa Abu Bakarlah orang yang paling baik dari kaum Muhajirin. Kemudian, umar melakukan sumpah setia kepada Abu Bakar yang kemudian diikuti oleh Sa’ad bin Ubadah dan khalayak ramai lainnya.
Ketika Abu Bakar sedang dalam keadaan sakit, ia meminta Usman untuk menuliskan wasiat bahwa yang akan menggantikan dirinya sebagai khalifah adalah Umar bin Khattab. Keputusan tersebut bukanlah keputusan pribadi Abu Bakar, melainkan keputusan yang telah dimusyawarahkan dengan beberapa shahabat lainnya.
Sebelum Umar wafat akibat ditikam oleh seorang budak bangsa Persia, dia telah membentuk suatu dewan yang terdiri dari Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Said bin Abi Waqqas yang bertugas memilih khalifah pengganti Umar. Setelah Umar wafat, dewan tersebut mengadakan pemilihan. Abdurrahman mengundurkan dirinya sebagai calon khalifah, sehingga tinggallah calon kuat yaitu Ali dan Usman. Tetapi Ali menunjuk Usman dan Usman pun menunjuk Ali sebagai calon khalifah Islam. Abdurrahman pun kemudian meminta persetujuan dewan agar pemilihan ditunda agar ia dapat menanyakan kepada masyarakat siapakah yang lebih disukai antara Ali dan Usman. Pada akhirnya, Abdurrahman menyatakan bahwa Usmanlah yang menjadi khalifah menggantikan Umar karena mayoritas suara dimenangkan oleh Usman.
Karena rasa tidak puas masyarakat terhadap kepemimpinan Usman, terjadilah pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Usman. Setelah Usman mangkat, banyak permintaan dari para shahabat seperti Abdurrahman, Zubair, dan juga Said bin Abi Waqqas agar Ali bersedia menjadi khalifah menggantikan Usman. Pada awalnya ia menolak tetapi pada akhirnya ia menerima tawaran tersebut. Namun pemberontakan terhadap Ali baik dari Muawiyah yang tidak setuju Ali menjadi khalifah dan Aisyah yang menuntut agar pembunuhan Usman segera diusut semakin gencar. Ketika perang Shiffin, terjadilah perundingan antara Ali dan Muawiyah. Pada awalnya, pihak pendukung Ali tidak ingin melakukan perundingan, tetapi Ali memutuskan agar perundingan tetap terjadi sehingga ia mengirimkan delegasinya Abu Musa Al-Asyari untuk bertemu juru runding dari pihak Muawiyah. Perundingan yang penuh dengan tipu daya politik dari pihak Muawiyah tersebut menghasilkan bahwa Ali diberhentikan sebagai khalifah dan Muawiyah sebagai pemimpin Islam yang baru. Dengan naiknya Muawiyah sebagai Khalifah, berubahlah sistem pemerintahan Islam menjadi sistem kerajaan yang turun temurun.
Merujuk pada beberapa sistem pemilihan Islam masa Shahabat, maka ada beberapa hal menarik untuk disimak. Pertama, substansi dari sistem demokrasi telah dilaksanakan oleh shahabat yaitu ketika pemilihan Abu Bakar dan khususnya Usman. Ketika pemilihan Usman, Abdurrahman bin Auf menemui masyarakat dan menanyakan siapakah yang lebih pantas antara Ali dan Usman yang menjadi khalifah dan hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih Usman dan daripada Ali. Selain itu, menjadi khalifah bukanlah keinginan pribadi dari khalifah-khalifah tersebut, akan tetapi karena kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka sehingga Islam dapat berkembang dan berjaya dimasa awal-awal berkembangnya Islam.
Add comment March 22, 2009
PEPERANGAN MASA RASULULLAH
Sosok Muhammad adalah tokoh yang sangat fenomenal yang pernah hadir di permukaan bumi ini. Fakta ini tidak hanya dibenarkan oleh kalangan muslim saja, tetapi juga kalangan non muslim, ini dibuktikan dengan dimasukkan Muhammad sebagai tokoh nomor satu dari seratus tokoh yang paling berpengaruh didunia. Penghargaan tersebut sangatlah beralasan, karena hanya dalam 22 tahun Muhammad menyebarkan Islam, beliau telah berhasil meletakkan pondasi keagamaan dan negara yang sangat kuat pada masyarakatnya khususnya pada para shahabat sehingga peradaban Islam menjadi sangat maju setelah wafatnya Nabi.
Nabi Muhammad saw. tidak hanya dikenal sebagai penyebar dan pemimpin agama Islam, tetapi juga sebagai kepala negara, pedagang, negosiator ulung, suami serta kepala keluarga yang sangat perhatian dan penuh cinta kepada keluarganya dan juga sebagai panglima perang yang sangat handal. Peperangan menjadi salah satu faktor dalam penyebaran agama Islam khususnya pada masa awal-awal penyebaran Islam. Namun, ada anggapan yang menyatakan bahwa Islam disebarkan dengan kilatan pedang, maka hal tersebut tidaklah benar. Peperangan yang terjadi selama masa penyebaran Islam khususnya pada periode Nabi Muhammad adalah pilihan terakhir yang harus dipilih oleh kaum muslimin untuk mempertahankan eksistensi Islam terhadap musuh-musuhnya dan mencegah terjadinya ancaman bagi keselamatan kaum muslimin, ataupun dilakukan untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat yang merasa tertindas dibawah penguasa yang otoriter.
Beberapa peperangan penting yang terjadi pada masa Rasulullah seperti perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar adalah bukti bahwa perang merupakan keniscayaan yang harus dihadapi muslimin, karena pilihan untuk perdamaian tidak mungkin lagi tercapai. Disamping itu, para pejuang Islam selalu berperang demi menegakkan keadilan dan melaksanakan perintah Allah, bukan untuk memuaskan nafsu ataupun demi untuk mendapatkan harta kekayaan ataupun budak.
Perang Badar merupakan hasil hasutan Abu Sufyan yang sedang melakukan perjalanan dagang. Kemudian ia mengetahui bahwa Nabi Muhammad dan pengikutnya sedang mengumpulkan harta rampasan yang didapat dari kafilah Quraisy lainnya. Abu Sufyan menyuruh utusannya Zamzam bin Amar Ghafari untuk menghasut pemimpin Quraisy di Mekkah untuk menyerang Nabi Muhammad dan pengikutnya. Namun sebelum ia sampai di Mekkah atas perintah Abu Sufyan, Zamzam memotong kedua telinga untanya, menghancurkan hidungnya, memasang pelananya secara terbalik, dan merobek bajunya sehingga ia menimbulkan kesan bahwa Muhammad dan pengikutnya telah menghancurkan kafilah dagang Quraisy. Hal tersebut menimbulkan reaksi keras dari semua prajurit dan pemberani dari Mekkah untuk membantu pasukan Abu Jahal untuk menghancurkan kaum muslimin. Kaum muslimin yang pada saat itu hanya berjumlah 313 orang dan tidak berniat untuk berperang dengan siapapun terpaksa meladeni pasukan Quraisy yang berjumlah tiga kali lipat dibawah pimpinan Abu Sufyan. Namun berkat kepatuhan, kedisiplinan dan keyakinan mereka pada Allah, pasukan muslimin berhasil memenangkan peperangan tersebut.
Perang Uhud adalah perang balasan yang juga dimulai oleh kaum kafir Quraisy. Abu Sufyan kembali mengumpulkan bala tentaranya lengkap dengan perlengkapan perang dan kemudian berkemah dikaki bukit Uhud. Pasukan Abu Sufyan kemudian mengembalakan binatang-binatang mereka di kebun-kebun jagung masyarakat Madinah, sehingga bisa memancing mereka keluar untuk beperang. Setelah melakukan perundingan alot, Nabi Muhammad bersama pasukannya pun menyambut serangan pasukan Abu Sufyan. Akan tetapi, pasukan Islam tidak mematuhi perintah Nabi sehingga formasi perang kaum musliminpun kacau. Akhirnya perang dimenangkan kafir Quraisy, bahkan Nabi pun mengalami luka.
Perang Khandaq dan Khaibar juga merupakan hasil dari kedengkian dari kaum Yahudi terhadap Islam. Mereka mengumpulkan dan menyuap suku-suku bangsa Arab untuk bersatu melawan kaum muslimin. Pada kedua perang tersebut, kemenangan besar berada pada pihak Islam.
Namun, perdamaian selalu menjadi prioritas utama bagi kaum muslimin. Sebagai contoh, pada saat penaklukan Mekkah, nabi memilih strategi perang yang cemerlang sehingga Mekkah bisa ditaklukkan tanpa pertumpahan darah yaitu dengan menentukan tempat-tempat yang boleh didatangi orang-orang Mekkah agar memperoleh keselamatan. Selain itu juga, Nabi memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memang lebih memilih perdamaian daripada peperangan, sebagaimana firman Allah “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertakwalah kepada Allah” (Q.S. 8:61). Akan tetapi, setiap kali ancaman terhadap Islam datang, kaum muslimin selalu siap untuk melayani ancaman tersebut tanpa gentar untuk membela agama Allah swt.
Add comment March 4, 2009
MEMPERKUAT AKAR KEBUDAYAAN ACEH

Original of Mesjid Raya Baiturrahman
Adat ngon hukom lage sifet ngon wujud, inilah salah satu hadih maja (perkataan orang tua) Aceh yang dapat dipahami adat dan hukum (syara’) sangat terkait antara sesamanya. Tanpa hukum tidak akan ada aturan untuk adat dan sebaliknya tidak ada adat maka tidak ada sarana untuk menjalankan hukum.
Apabila kita menelaah hadih maja di atas maka dapat kita simpulkan bahwa adat yang dipegang oleh masyarakat Aceh haruslah berdasarkan syari’at Islam, karena adat bak teumoreuhom hukom bak Syiah kuala. Syiah kuala yang dimaksud disini adalah seorang ulama termasyur pada masa kerajaan Aceh yaitu Abdurrauf As-Singkili.
Namun fenomena yang kita perhatikan di masyarakat kita saat ini sepertinya belum mencerminkan akan hal tersebut diatas. Banyak nilai-nilai dan budaya yang telah mengalami pergeseran nilai. Banyak hal-hal yang dulu dianggap tabu oleh masyarakat Aceh telah menjadi hal yang lumrah dan diterima oleh masyarakat. Hal ini adalah hasil dari tidak terbendungnya pengaruh nilai-nilai yang datang dari luar Indonesia khususnya luar Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Akses informasi yang dapat diakses dan mudah menjadi belati bermata dua yang disatu sisi memberikan pengaruh sangat positif terhadap perkembangan peradaban sedangkan disisi lain juga memberikan efek negatif yang sangat buruk terhadap nilai-nilai kebudayaan yang telah lama dianut oleh masyarakat Aceh. Informasi-informasi yang diterima tidak mampu disaring secara sempurna oleh masyarakat Aceh karena kita tidak mempunyai latar belakang ilmu dan budaya yang kuat yang seharusnya telah tertanam didalam diri setiap masyarakat Aceh. Kita lebih menjaga dan merasa bangga dengan budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa lain dibandingkan dengan nilai budaya kita sendiri. Inilah yang disebut dengan Cultural Imperialism yaitu mengadopsi budaya, nilai-nilai dari bangsa atau komunitas lain baik secara terpaksa ataupun dengan keinginan individual masing-masing.
Zaman penjajahan Belanda dan Jepang adalah salah satu bentuk dari cultural imperialism misalnya dengan membatasi pada orang-orang tertentu saja yang dapat mengenyam pendidikan yang bagus dan membatasi pengajaran ajaran-ajaran Islam kepada seluruh masyarakat pada saat itu. Selain itu juga pendudukan Belanda yang cukup lama di Aceh juga secara tidak langsung telah mendukung proses pentransferan budaya eropa ke budaya lokal.
Namun Cultural Imperialism tidaklah selalu bermakna negatif karena setiap bangsa atau komunitas pasti memiliki sisi negatif dan positif masing. Tapi pada kenyataannya, nilai-nilai yang sering diadopsi adalah nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kebudayaan setempat sedangkan nilai-nilai positif ditinggalkan bahkan diabaikan begitu saja. Sebagai contoh pada remaja, budaya merayakan hari-hari peringatan seperti Valentine tidaklah datang dari budaya lokal, tetapi berasal dari bangsa-bangsa barat yang pada awalnya mereka peringati untuk mengenang salah seorang pastur yang melawan kebijakan raja pada masanya. Budaya yang diadopsi ini tidaklah sesuai dengan budaya masyarakat yang Aceh yang notabene adalah budaya Islam. Seharusnya nilai positif yang seharusnya diadopsi adalah sikap menghargai sesama atau waktu. Tapi nilai inilah yang sangat sulit diadopi oleh masyarakat Aceh.
Contoh lainnya dari pergeseran pola pikir yang telah hadir dalam masyarakat Aceh adalah sudah kurangnya kesadaran anak-anak, pemuda, bahkan orang tua dalam hal pendidikan agama. Orang tua akan membayar sebesar apapun biaya yang harus dihabiskan untuk pendidikan keduniawian anak-anaknya, namun kemudian ragu ketika harus membayar untuk pendidikan keakhiratannya yang mengakibatkan kurangnya wawasan keilmuan agama yang dimiliki oleh masyarakat kita saat ini.
Keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga budaya dan adat istiadat agar tidak mengalami degradasi sangatlah penting. Arus informasi yang tak terbendung dan kurang siapnya masyarakat menerima dan menyaring informasi tersebut menjadi salah satu faktor yang penting yang terjadinya efek samping cultural imperialism. Oleh karena itu, penguatan-penguatan nilai-nilai kebudayaan dan adat istiadat sangat diperlukan dan harus didukung oleh semua pihak. Pengadaan kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung kuatnya akar kebudayaan Aceh sangat penting untuk dilaksanakan. Sehingga sekencang apapun arus globalisasi yang menghantam masyarakat Aceh, kita sudah mempersiapkan diri kita dan masa keemasan Aceh yang dulu pernah diraih pada masa Iskandar Muda akan datang kembali.
Add comment February 3, 2009
Pertukaran Pemuda Muslim Indonesia-Australia
Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia
Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Universitas Paramadina
menyelenggarakan program spesial, Pertukaran Tokoh Muslim Muda antara
Indonesia dan Australia, dimana tokoh/aktivis muslim muda dari Indonesia
akan mengunjungi Australia selama 2 minggu dan bertemu baik Muslim maupun
non-Muslim untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman. Sebaliknya tokoh
muslim muda Australia juga mengunjungi Indonesia dalam program yang sama.
Program pertukaran ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terutama
mengenai peran agama di masing-masing negara. Program ini juga ditujukan
untuk meningkatkan pemahaman terhadap Islam di kedua negara dan untuk meningkatkan kesadaran mengenai keanekaragaman budaya di Australia maupun Indonesia.
Syarat-syarat pendaftaran:
Pria dan Wanita berusia di bawah 40 tahun.
Menyerahkan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Paspor.
Lancar berbicara bahasa Inggris dengan melampirkan salinan nilai
score
TOEFL (international atau institusional) minimal 450.
Menyertakan surat rekomendasi dari organisasi yang menjelaskan
kedudukan pelamar dalam organisasi tersebut.
Melampirkan surat pernyataan singkat berisi:
apa yang dapat diberikan pelamar pada program tersebut selama dan
sesudah kunjungan,
peran dari pelamar dalam organisasi dan alasan mengapa tertarik pada
program ini,
bagaimana pelamar akan membagi pengalamannya selama dan sesudah
program.
Surat pernyataan ini tidak boleh melebihi 2 halaman.
Melampirkan Curriculum Vitae terbaru (tanpa perlu melampirkan seluruh
salinan sertifikat atau dokumen yang dimiliki).
Membuat surat keterangan yang mencantumkan:
nama organisasi atau orang yang ingin ditemui di Australia.
hobby dan kebiasaan di waktu luang.
tanggal terakhir perjalanan ke Australia, jika ada.
tanggal keberangkatan ke Australia, jika terpilih.
alamat, fax atau nomor telephone yang dapat dihubungi.
Pasphoto 3 x 4 cm sebanyak 2 lembar.
Salinan Akte Kelahiran.
Melampirkan Surat rekomendasi sebanyak 2 buah dari 2 orang yang
menyatakan mengapa pelamar adalah kandidat yang tepat untuk mengikuti
program ini.
Calon pelamar disarankan untuk hanya mengirimkan persyaratan yang
disebutkan di atas.
Lamaran dapat dikirim ke:
Panitia Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda
Indonesia-Australia
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta Selatan 12790
Tel: 62 21 7918 1188
Fax: 62 21 799 33 75
Batas akhir pengiriman lamaran: Jum’at, 9 Januari 2009 pukul 16.00
WIB.
Informasi lebih lanjut hanya dapat ditujukan melalui email kepada:
phanggarini@ yahoo.com. au
Add comment December 24, 2008
TREND LALU LINTAS
“What’s your first impression to be in Aceh?” (Apa kesan pertama anda berada di Aceh?), “The traffic is scary!!!” (Lalu Lintasnya menakutkan!!!). Begitulah beberapa kesan yang saya dapatkan ketika menanyakan kepada beberapa “Bule” (expatriate) yang mengunjungi Nanggroe Aceh Darussalam baik yang bertujuan untuk bekerja ataupun mengunjungi tempat-tempat wisata yang terdapat di provinsi ini. Ekspresi tersebut bukanlah suatu hal yang aneh jika kita melihat sistem lalu lintas yang diterapkan di negara-negara mereka. Keselamatan sesama pengendara dan pejalan kaki sangat dipentingkan dan juga peraturan-peraturan yang diterapkan pun dapat dipatuhi secara sadar dan sukarela oleh masyarakat negara tersebut. Apabila mereka melanggar peraturan maka hukuman yang diterima pun sangat berat sehingga membuat pelanggar merasa jera untuk mengulangi pelanggarannya. Selain itu juga, ketersediaan fasilitas yang mendukung penertiban lalu lintas mengambil peran yang sangat penting dinegara-negara tersebut.
Melihat kesemerautan lalu lintas kita yang telah dan makin memburuk bahkan jauh dari kata “aman” dalam berkendaraan atau berjalan kaki membuat kesan bahwa hal ini sudah menjadi budaya kita sebagai penduduk Indonesia khususnya Aceh. Sehingga terkesan permasalahan ini tidaklah dianggap lagi sebagai suatu permasalahan tetapi lebih sebagai kebiasaan yang telah diterima dan didukung oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai contoh, jika kita berjalan di sepanjang jalan-jalan utama kota Banda Aceh pasti akan kita temukan pengemudi mobil atau sepeda motor yang mengebut dengan kecepatan tinggi atau saling menyalip dengan kendaraan lain. Bukankah ini membahayakan banyak nyawa pengemudi kendaraan lainnya sehingga tidak jarang kita temukan kecelakaan beruntun yang sering memakan korban.
Disamping itu, beberapa tahun belakangan ini ada sebuah trend baru dikalangan pengendara kendaraan bermotor di Banda Aceh yaitu melewati Lampu Merah. Trend ini terkesan sudah dianggap suatu hal yang lumrah bahkan kadang-kadang tidak jarang juga kita temukan oknum-oknum yang seharusnya menjadi teladan berkendaraan yang baik pun melakukan pelanggaran tersebut. Sehingga sepertinya sudah tertanam di dalam pikiran kita bahwa melanggar lampu merah adalah suatu hal yang wajar bahkan kadang-kadang menjadi kebanggaan khususnya dikalangan pemuda. Padahal banyak papan-papan pengumuman yang memperingati pengendara agar berkendara secara hati-hati dan mematuhi semua rambu-rambu lalu lintas seperti sebuah tulisan yang menyatakan bahwa Orang Bijak Tidak Melanggar Lampu Merah. Namun pengumuman atau peringatan semacam itu sering kita anggap hanya sebagai sebuah iklan atau penghias jalan-jalan kita.
Permasalahan lain yang juga menyebabkan keresahan masyarakat juga adalah balapan liar. Sebenarnya hobi ini bisa menjadi kegiatan yang positif apabila dilakukan ditempat dan waktu yang tepat. Namun, ketidaktersediaan tempat untuk menyalurkan bakat membuat pemuda yang memiliki hobi extreme ini memilih balapan liar sebagai tempat penyaluran bakat mereka yang pastinya tidak hanya membahayakan jiwanya sendiri tapi juga orang-orang disekitarnya.
Permasalahan lalu lintas pun tidak hanya berkisar pada pengendara saja tetapi juga pada para pejalan kaki. Penggunaan Zebra Cross atau jembatan penyeberangan sebagai tempat untuk penyeberangan jalan belum maksimal digunakan oleh pengguna jalan. Hal ini mungkin terjadi karena ketidaktahuan pengguna jalan terhadap fasilitas tersebut. Sehingga pengguna jalan sering sekali menggunakan tempat-tempat sembarangan untuk melakukan penyeberangan yang sebenarnya membahayakan jiwa mereka sendiri apalagi jika penyeberang datang dari kalangan anak-anak.
Merujuk pada beberapa permasalahan tersebut maka sudah sepantasnyalah bagi kita untuk berusaha melakukan sesuatu yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Adapun hal-hal tersebut sebaiknya kita mulai dari diri kita masing-masing secara individual terlebih dahulu. Misalnya menyadari bahwa mengikuti peraturan lalu lintas yang telah ditetapkan adalah suatu langkah cerdas yang membawa keselamatan baik kita sendiri maupun juga bagi pengguna jalan lainnya. Selain itu, mematuhi peraturan juga sebenarnya bisa dihitung sebagai suatu bentuk ibadah kita kepada Allah Swt. Bukankah Allah menyuruh kita untuk menjaga diri kita baik secara fisik maupun secara ruhiyah. Mematuhi peraturan—Lalu Lintas—adalah sebuah bentuk ikhtiar kita untuk menjaga diri kita dan juga keselamatan orang lain. Peraturan yang telah ditetapkan bukanlah untuk mengekang ataupun mengkungkung siapapun, tetapi untuk mengatur sehingga semuanya dapat berjalan secara baik dan lancar.
Keteladanan adalah faktor yang sangat penting karena bagaimana mungkin kita akan menaati peraturan Lalu Lintas yang telah tertera jika pihak yang membuat peraturan tersebut juga melanggar peraturan. Selain itu juga, pemberian Surat Izin Mengemudi (SIM) seharusnya hanya boleh diberikan jika telah melewati serangkaian tes yang menguji kelayakan seseorang mengendarai kendaaran bukannya melalui “pembelian” SIM. Hal ini dapat juga dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga kursus mengemudi yang ada di Kota Banda Aceh ini atau di luar Kota Banda Aceh. Karena bagaimana mungkin mengharapkan pengemudi yang baik dan benar jika mereka sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dan hal-hal apa saja yang harus dipenuhi untuk menjadi pengemudi yang baik dan benar.
Menyediakan fasilitas-fasilitas yang mampu menampung bakat-bakat pembalap yang ada di provinsi ini adalah solusi yang dapat dilakukan untuk mengarahkan pembalap liar menjadi pembalap profesional. Sehingga mungkin nantinya akan lahir-lahir bibit-bibit unggulan yang dapat mewakili provinsi NAD di ajang-ajang balapan yang bertaraf nasional atau bahkan internasional.
Dan solusi lainnya adalah membangun rasa saling mengerti dan menghormati antara pengguna jalan baik pengendara atau pejalan kaki. Alangkah baiknya jika pengendara kendaraan dapat memberikan kesempatan kepada pejalan kaki apabila mereka ingin menyebrangi jalan. Bukankah nilai-nilai seperti ini yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada kita semua sehingga Islam dapat tersebar luas dan dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat karena keindahan akhlak yang ditunjukkan penganutnya.
1 comment August 9, 2008
ISLAM DAN LINGKUNGAN

Bau menyengat, sampah berserakan, dan saluran pembuangan tersendat adalah gambaran sehari-hari yang mungkin selalu kita lalui. Padahal Indonesia khususnya Nanggroe Aceh Darussalam adalah masyarakat mayoritas muslim yang notabene seharusnya menjadi model dari Islam. Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat Lin Nass (Kamu adalah sebaik-baik ummat yang bagi manusia). Begitulah kira-kira sebuah terjemahan dari salah satu ayat Al-quran yang menyatakan bahwa umat Islam adalah sebaik-baik ummat untuk seluruh manusia. Hal ini adalah sebuah keniscyaan menimbang ajaran Islam adalah ajaran yang telah di sempurnakan Allah sebagai agama universal dan juga mengandung nilai-nilai kebaikan universal. Sehingga pastinya diharapkan semua pemeluk agama ini akan menjadi umat terbaik diantara manusia-manusia lainnya. Menjaga kebersihan dan lingkungan adalah salah satu prioritas penting yang diajarkan Islam kepada pemeluknya. Namun sepertinya kita tidak pernah menghiraukan masalah ini. Islam yang kita pahami selama ini hanyalah berkutat pada shalat dan puasa saja. Padahal Islam seharusnya menjadi way of life (panduan kehidupan) bagi pemeluknya. Jika kita melihat ayat-ayat dalam Al-Quran, kita akan menemukan perintah agar manusia sebagai khalifah mampu menjaga dunia ini dari kehancurannya seperti dalam surat Al-A’raaf ayat 56 “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya…”. Namun yang terjadi adalah kebalikannya, kita sadar atau tidak telah melakukan kehancuran sedikit demi sedikit. Akibat dari kerusakan ini pun akhirnya berimbas kembali kepada manusia, karena pada dasarnya alam ini diciptakan Allah dengan keseimbangan yang sesuai dengan ukurannya (Al Hijr: 19). Mungkin belum hilang dalam ingatan kita beberapa tahun yang lalu sebuah banjir besar (bandang) menghantam sebuah pemukiman di Sumatra Utara. Bencana alam ini terjadi karena kerusakan hutan yang disebabkan oleh ulah manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali”. Surat Ar-Rum ayat 41 ini telah memberitahukan kita konsekuensi dari kerusakan yang diperbuat. Allah akan mencicipkan sedikit kepada manusia akibat perbuatan dosa dan pelanggaran kita sehingga kita sadar akan perbuatan dosa tersebut. Ini adalah salah satu contoh dan masih banyak contoh kerusakan besar lainnya yang juga berakibat besar. Perbuatan-perbuatan kecil kita yang melanggar juga sebenarnya ikut ambil andil dalam kerusakan-kerusakan besar tersebut. Membuang sampah atau limbah secara sembarangan, penggunaan plastik, asap mobil dan industri dapat memberikan dampak negatif bagi alam. Pembuangan sampah tidak pada tempatnya memberikan kesan kumuh dan kotor serta dapat mengundang bakteri-bakteri dan bau menyengat yang buruk terhadap kesehatan, sedangkan sampah plastik akan merusak tanah karena plastik hanya mampu dihancurkan oleh tanah setelah 500 tahun. Semakin banyak sampah plastik didalam tanah maka tingkat kesuburan tanah pun semakin berkurang. Polusi udara akan merusak lapisan pelindung dunia (ozon) yang mencegah sinar matahari yang buruk bagi manusia masuk ke dalam bumi. Hal itu akan berakibat meningkatnya suhu bumi serta juga dapat menyebabkan penyakit kanker kulit. Walaupun sebagian dari akibat pengrusakan telah kita rasakan saat ini, namun bukan berarti kita telah terlambat untuk melakukan perbaikan terhadap kerusakan tersebut. Banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mencegah bencana yang lebih besar terjadi dan kita dapat memulai tersebut dari diri kita sendiri. Marilah kita mulai dengan meningkatkan kesadaran bahwa pengrusakan—membuang sampah, menebang pohon secara liar—yang telah kita lakukan selama ini adalah sebuah dosa kita kepada Allah swt. Sehingga saatnya bagi kita untuk menebus kesalahan tersebut dengan menjaga lingkungan kita. Penjagaan lingkungan adalah salah satu perintah Allah kepada kita sebagai khalifah dunia ini yang bernilai ibadah jika kita melakukannya secara ikhlas. Kepada pemerintah, agar dapat mengalakkan sistem daur ulang sampah. Sistem ini telah lama diterapkan oleh negara-negara maju dengan cara memisahkan sampah-sampah yang dapat didaur ulang dengan sampah yang tidak dapat didaur ulang. Sehingga sampah pun dapat di reduksi dengan sistem ini. Selain itu, daur ulang inipun dapat bernilai ekonomi kepada masyarakat dengan menciptakan produk-produk yang baru dari sampah-sampah daur ulang tersebut. Selain itu, penempatan tong-tong sampah ditempat publik akan membantu masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan bersih sehingga kota yang beriman dan bersih pun dapat kita miliki dan gelar sebaik-baik umat akan pantas kita sandang dihadapan masyarakat dunia. (baiquni)
Add comment August 9, 2008
BAGAIMANAKAH SHALAT KITA?
Membicarakan perihal shalat sepertinya terkesan topik yang sudah sangat lama dikarenakan hal ini telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Namun walaupun telah lama berlangsung dan terus dibicarakan, perihal ini seolah-olah tak akan pernah ada kata usainya menimbang fenomena-fenomena yang hadir di kalangan umat islam yang masih terus mengabaikan atau melakukan ibadah tersebut secara tidak sempurna.
Shalat adalah ibadah yang langsung diperintahkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui perjalanan Isra’ Mi’raj. Ibadah ini juga merupakan suatu sarana bagi manusia untuk langsung berdialog dengan penciptanya. Disamping itu juga, kewajiban melakukan shalat juga dikarenakan kita sebagai umat manusia telah dan terus menerima anugrah dan nikmat dari Allah Swt, sehingga sepatutnya lah bagi kita semua untuk bersyukur kepada yang Maha Memberi. Bukankah seharusnya kita merasa malu kepada Pencipta kita semua jika kita tidak pernah berterima kasih terhadap pemberian yang kita minta maupun yang tidak kita minta. Padahal Allah hanya mewajibkan kita untuk melakukan shalat sebanyak lima waktu dalam sehari. Jika dibandingkan dengan segala karuniaNya seperti udara, kesehatan, keluarga, kebahagiaan dan lain-lain, apakah pantas bagi seorang makhluk hina, kecil dan tak mempunyai kemampuan apa-apa ini tidak melakukan apa yang diperintahkan Allah? Tidakkah kita malu jika hanya datang kepadaNya disaat kita ditimpa musibah, terdesak, saat cemas atau membutuhkan sesuatu sedangkan ketika sedang dalam keadaan bahagia kita pun lupa akan keberadaan Allah.
Fenomena lainnya adalah sebagaimana yang pernah diucapkan Khalifah Umar Bin Khattab “Banyak orang yang shalat, tetapi sedikit yang melakukan shalat”. Maksudnya adalah begitu banyak orang yang melakukan shalat tetapi sedikit yang melaksanakannya secara baik dan berkesinambungan sehingga tidak ada yang membekas bagi dirinya. Jadi, kita pun tidak perlu heran ketika banyak orang yang melakukan shalat di mesjid, banyak pula yang menjadi korban hilangnya barang-barang bawaan mereka ketika ke Mesjid, atau meskipun sering seseorang melakukan shalat semakin sering pula uang-uang negara yang terus di keruk olehnya. Padahal Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 45 bahwa shalat dapat melarang seseorang melakukan hal-hal yang keji dan mungkar. Apakah ayat ini yang menyimpang dari cara hidup manusia ataukah manusia yang tidak mengerti hakikat dari kalam Allah tersebut?
Kebanyakan umat Islam pada saat ini hanya melakukan ibadah shalat sebagai rutinitas saja yang dilakukan hanya untuk pelengkap penderita saja. Sedangkan makna-makna yang terkandung dalam setiap bacaan dan gerakan dalam shalat pun tidak dapat dihayati dan diresapi secara mendalam oleh orang-orang yang melakukan shalat walaupun secara hukum syari’at shalat tersebut dinyatakan memenuhi rukun dan syarat sah shalat. Akan tetapi, ada hal yang lebih subtansial daripada hanya memenuhi rukun dan syarat sah shalat saja yaitu penghayatan dan pengejawantahan shalat tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam Surat Thaha ayat 14 Allah mengatakan “Dan Laksanakanlah shalat untuk mengingatKu”. Jadi berdasarkan perkataan diatas, tujuan dari melakukan shalat adalah agar kita selalu ingat kepada Sang Khalik yang menciptakan kita. Sehingga perbuatan keji dan mungkar pun akan tercegah karena seringnya kita mengingat Allah dan niscaya Allah pun akan mengingat kita. Selain itu, dalam bacaan Surat Al-Fatihah terdapat berbagai pesan yang seharusnya mampu mencegah kita dari melakukan perbuatan keji dan mungkar bagi orang-orang yang mampu menghayati surat tersebut. Sebagaimana yang terdapat pada ayat enam dan tujuh, Prof. Dr. Ir. M Amin Aziz mengungkapkan bahwa pesan dalam ayat tersebut adalah kita meminta kepada Allah agar dikarunikan hidayah serta memohon kepada Allah agar ditunjuki jalan yang lurus bukannya jalan yang orang-orang yang Allah murkai dan sesat seperti Fir’aun, Qarun, penganjur nafsu materialisme, Abu Jahal, Abu lahab, sekularisme dan hedonisme. Oleh karena itulah shalat diatur dalam waktu yang berbeda-beda yaitu pada siang dan malam agar berulang-ulang pula mengingat Allah yang akan menambah kesan ketaqwaan dan kecintaan terhadap Allah dalam hati kita. Bukankah kita akan merasa malu jika melakukan hal yang keji dan mungkar dihadapan siapa yang kita takuti, hormati, cintai dan agungkan?
Menghayati hakikat dalam shalat atau khusyuk dalam shalat pada dasarnya adalah sebuah kewajiban yang dibebankan kepada orang-orang yang melaksanakan shalat. Walaupun para ahli fiqh tidak menetapkan secara khusus didalam rukun dan syarat sah shalat karena kekhusyukan adalah masalah yang berhubungan denga batin seseorang yang sangat abstrak untuk diketahui. Namun apabila kita melihat pada rukun dan syarat sah shalat maka kita akan menemukan aturan-aturan yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk meraih tingkat minimal dari kekhusyukan seperti tidak boleh melakukan gerakan-gerakan besar sebanyak tiga kali berturut-turut. Aturan seperti ini sebenarnya menginginkan pelaku shalat agar dapat berkonsentrasi penuh ketika melakukan shalat.
Pada dasarnya memang tidak ayat dalam Al-Quran yang menegaskan perintah khusyuk dalam shalat. Tetapi perintah Allah tidaklah harus selalu menggunakan kata-kata yang tegas sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Mukminun ayat 1-2 yang menyatakan beruntunglah orang beriman yang khusyuk dalam shalatnya. Ayat tersebut merupakan anjuran kepada orang beriman agar khusyuk dalam shalatnya sehingga mereka akan meraih kebahagian karena telah berhasil “bertemu” dengan Penciptanya. Inilah salah satu tujuan lain dari shalat yang seharusnya membuat kita sadar bahwa shalat adalah kebutuhan kita semua bukan sekedar kewajiban. (Bay)
Add comment July 23, 2008
Happiness
Indeed happiness is the most valuable matter searched by every people in the world. The searching could lead people to describe happiness by having a suitable couple, have a lot of money and have wonderful children. however, sometimes in the searching of happiness, there a lot of torn and obstacle that may pop in to somebody’s life. The result of it could be very different, some people respond to that situation negatively by drowning himself in the dark side of his or positive respond by taking it as a learning process that will be useful for the future. however, this is the hardest part of life, accepting the failure. But if we want to seek deeper, God always speak to us in different way, sometimes we notice it and sometimes not. When He speaks to us, we used to ignore Him or probably just simply can’t listen to Him. Trust in your faith, that when you pray to your GOD, he always listen to you and give you the answer, nevertheless sometimes our ears is too deaf and our heart is too dirty to receive all the frequency that He always sent to us through His messenger.
Sometimes, when we ask about a thing, He won’t give us the thing directly however He gives us the way to grab the thing because he doesn’t want to spoil human. Human should be strong so that he’ll survive in every kind of situation. Because that’s what we are…
Add comment July 16, 2008
Untitled
it is undeniable that sometimes truth can be very painful, however those things indeed bring us something that is more valuable when we try to seek the meaning implied inside. But most of the time, our eyes are too blind and blurred to see it because our most valuable and precious part has been hurt and stab by thousand nails of feeling…
believing on the power of GOD that He will always gives us the best for us will help us to pass it through…because a diamond will not be that valuable if it never been shaped and cut by the strongest knives ever in the world…Be patient…and ask for help.
Add comment June 12, 2008
Maaf
Kadang Melihat masa-masa dulu yang telah dilalui, diikuti, disimak dan didengar adalah sebuah kenangan indah ditambah dengan sedikit rasa pahit yang membuat hidup kita semakin “tasty”. Ada kala dimana kita sangat membenci seseorang, bahkan kehadirannya pun menjadi penyakit hati bagi kita. Tapi apakah dengan terus membenci ia, semua permasalahan akan berakhir, smoga penderitaan kita akan hilang dengan sekejap? Bukankah setiap paku yang telah menancap di permukaan apapun akan tetap meninggalkan bekasnya. Menyimpan kebencian hanya akan membuat bekas tersebut tidak terobati bahkan semakin terinfeksi…bahkan bisa menjadi borok sampai akhir hayat…
Biarlah waktu dan keikhlasan hati akan mengeringkan luka tersebut dan menggantinya dengan kulit yang baru dan lembut serta lebih Indah…karena memang seperti itulah hidup ini terus bergulir.
Percayalah…memaafkan adalah obat termujarab yang akan terus menyembuhkan segala penyakit dan ia tidak akan pernah habis dari dunia ini selama hati-hati yang ikhlas dan lembut masih ada di dunia ini.
Add comment February 15, 2008